Lynx mendengarkan Narendra dengan serius. "Lalu apa yang terjadi?"

"Monrest tidak suka diganggu. Mereka memanggil makhluk mutasi," kata Narendra dengan nada getir. "Hewan-hewan itu... mereka tidak seperti mahluk mutasi yang biasa kita lihat. Sangat besar, buas, dan mematikan. Suku Raksa yang datang untuk menyelamatkan keluarga mereka dibantai habis-habisan. Bahkan Kepala Suku Raksa tewas malam itu. Hanya beberapa orang yang berhasil selamat dan menceritakan hal ini."

"Tapi..." Narendra menghela napas panjang. "Pengorbanan mereka tidak sia-sia. Ritual besar itu gagal. Mereka tidak bisa menyelesaikannya dan gagal memanggil orang-orang dari dimensi lain, sehingga mereka harus menunggu lima puluh tahun lagi untuk mencoba lagi."

"Jadi mereka tidak mengetahui jika kami sudah ada di pulau ini." Batin Lynx didalam hati. Lynx tidak ingin menceritakan hal ini kepada Narendra agar tidak menimbulkan masalah.

Kanha yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Jadi, Monrest kehilangan kesempatan mereka. Tapi... suku Raksa juga kehilangan segalanya."

Narendra mengangguk pelan. "Sejak malam itu, suku Raksa tidak pernah sama lagi. Mereka tercerai-berai, hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Beberapa dari mereka menjadi pencuri untuk bertahan hidup, yang lain memilih mengasingkan diri. Tidak ada lagi pemimpin yang bisa menyatukan mereka."

Lynx melihat ke sekeliling desa yang hancur. Hatinya terasa berat membayangkan kejadian mengerikan itu. "Jadi, suku Raksa dihancurkan bukan hanya oleh kekuatan Monrest, tapi oleh kebencian dan kekejaman mereka yang tak terhingga."

Narendra menunduk, wajahnya dipenuhi rasa pedih. "Iya. Dan itulah kenapa aku ingin membantumu, Lynx. Kalau ada cara untuk menghentikan Monrest dan menyatukan suku-suku, aku ingin menjadi bagian dari itu. Aku tidak ingin suku Raksa dan suku-suku lainnya hanya tinggal cerita."

Lynx menatap Narendra dengan penuh penghormatan. "Aku mengerti. Dan aku janji, kita akan menemukan cara untuk menghentikan mereka. Tidak hanya untuk Raksa, tapi untuk semua orang di pulau ini."

Narendra mengangguk. Di bawah sinar matahari yang mulai redup, mereka berdiri bersama, memandangi sisa-sisa desa yang dulu megah. Tekad mereka semakin kuat, untuk melawan ancaman yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.

Ketika mereka memeriksa salah satu rumah yang masih berdiri, mereka mendengar suara lemah dari dalam. Narendra mengangkat tombaknya, bersiap untuk menyerang, tetapi Lynx menghentikannya. Dengan pendengarannya yang tajam, Lynx bisa mengetahui jika disekitar mereka ada beberapa orang yang mengintai mereka dan ada satu orang didalam rumah.

Malam sudah mulai turun ketika Lynx, Narendra, dan Kanha memeriksa rumah yang terlihat mencurigakan. Rumah itu kecil, dinding kayunya sudah lapuk, dan pintunya terayun pelan diterpa angin.

"Kau yakin tempat ini aman?" tanya Narendra sambil mengangkat tombaknya.

"Tidak ada yang benar-benar aman," jawab Lynx dengan suara tenang, matanya menyapu setiap sudut. "Tapi kita perlu tahu siapa yang ada di dalam."

Mereka mendekati pintu dengan hati-hati. Narendra bersiap untuk menyerang jika perlu, tetapi Lynx menghentikannya dengan tangan terangkat.

"Biar aku dulu," katanya.

Dengan perlahan, Lynx mendorong pintu yang berderit, memperlihatkan ruangan gelap di dalam. Di lantai, terbaring seorang wanita muda dengan pakaian compang-camping, tubuhnya terlihat lemah dan penuh lumpur. Rambutnya panjang dan kusut, tetapi wajahnya, meskipun pucat, menunjukkan kecantikan yang menarik perhatian.

Wanita itu membuka matanya perlahan, memandangi mereka dengan waspada. "Siapa kalian?" katanya dengan suara pelan.

"Kami hanya orang yang lewat," jawab Lynx singkat.

"Siapa kau?"

Wanita itu mencoba duduk, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Narendra maju untuk membantunya.

"Namaku Rira," jawabnya sambil menghela napas. "Aku... aku tersesat. Rombonganku diserang beberapa hari lalu. Aku melarikan diri dan akhirnya menemukan tempat ini."

Narendra mengernyit. "Diserang? Siapa yang menyerangmu?"

Rira menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak tahu. Mungkin Monrest... mungkin bukan. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Mereka mencuri semua barang kami."

"Kenapa kau sendirian?" tanya Kanha yang berdiri di belakang Narendra.

"Karena aku satu-satunya yang cukup beruntung untuk melarikan diri," jawab Rira, suaranya penuh kepedihan. Ia kemudian menatap Kanha dengan senyum kecil. "Dan kau, bocah kecil, kenapa kau ada di sini? Tempat ini terlalu berbahaya untuk anak-anak."

Kanha memutar matanya. "Aku bukan bocah kecil! Aku di sini untuk berlatih dan menjadi kuat!"

Rira terkekeh, tetapi di dalam hatinya ia meremehkan Kanha. "Anak-anak seperti ini masih dibawa-bawa...," pikirnya. Tatapannya kemudian beralih ke Lynx, yang berdiri tenang di dekat pintu.

"Kau pasti pemimpin mereka," katanya, mencoba memulai percakapan.

Lynx menatapnya sekilas tanpa ekspresi. "Kami tidak punya pemimpin. Kami hanya berjalan bersama."

Rira tersenyum tipis. "Tapi jelas kau yang paling berpengaruh. Aku bisa melihatnya dari cara mereka memandangmu."

Narendra memotong. "Kita harus keluar dari sini. Tempat ini terlalu sempit untuk beristirahat."

Mereka membantu Rira keluar dari rumah dan duduk di dekat api unggun yang telah mereka buat. Kanha membagikan makanan untuk Rira, sementara Narendra sibuk mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk membesarkan api. Sementara Lynx duduk bersandar pada sebatang pohon sambil tersenyum menertawakan sesuatu.

Saat malam semakin larut, Rira mulai membuka percakapan lagi. Matanya tertuju pada parang yang tergantung di pinggang Lynx.

"Itu senjata yang indah," katanya dengan nada kagum. "Aku belum pernah melihat sesuatu seperti itu. Dari mana kau mendapatkannya?"

Lynx tersenyum kecil. "Itu bukan sesuatu yang didapatkan dengan mudah. Senjata ini bukan untuk dipamerkan."

Rira tertawa pelan, mencoba menghilangkan ketegangan. "Kau terlalu serius. Tapi aku mengerti. Senjata seperti itu pasti punya cerita panjang."

Narendra, yang duduk di sisi lain api, menatap Lynx. "Dia benar. Kau memang terlalu serius, Lynx. Tapi mungkin itu sebabnya kau yang paling kami andalkan."

"Paling diandalkan?" Rira memotong, matanya sedikit menyipit. "Kulitnya bahkan lebih halus dari kulit wanita. Tidak ada bekas luka pertempuran. Apa benar dia sehebat itu?"

Narendra tertawa kecil. "Kau akan tahu nanti."

Rira memiringkan kepala, tersenyum manis kepada Lynx. "Kalau begitu, mungkin aku harus tetap dekat denganmu. Denganmu di sekitar, aku pasti aman."

Lynx tidak menanggapi, hanya menatap api unggun. Tetapi Narendra memperhatikan cara Lynx sedikit memutar tubuhnya menjauh dari Rira, menandakan bahwa ia tidak terlalu nyaman dengan perhatian itu.

Saat malam semakin larut, Rira melihat kesempatan untuk melancarkan rencananya. Ia membakar ramuan obat bius di dekat api unggun, asapnya mulai menyebar perlahan. Narendra, yang duduk paling dekat dengan api, mulai menguap lebar.

"Sepertinya aku harus tidur," katanya sambil berbaring di sisi lain api.

Kanha menggosok matanya, bergumam pelan, "Aku juga ngantuk..." dan akhirnya tertidur dengan kepala di atas lututnya.

Lynx, yang sudah mencurigai Rira sejak awal, pura-pura terpengaruh asap itu. Ia perlahan menutup matanya, seolah-olah ikut tertidur.

Rira tersenyum tipis, matanya tertuju pada parang Lynx. "Akhirnya," pikirnya. Dengan hati-hati, ia merangkak mendekat, memastikan tidak ada suara yang bisa membangunkan mereka. Tangannya meraih senjata itu dengan penuh keinginan.

Ketika ia berhasil mengambilnya, ia melangkah mundur pelan, matanya penuh dengan rasa puas. "Mereka bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi," batinnya.

Namun, saat ia berbalik untuk melarikan diri ke dalam hutan, Lynx membuka matanya dengan tajam.

Lynx bergerak cepat, tapi dengan tenang. Dalam waktu singkat, ia memanjat pohon terdekat dan mengikat Narendra serta Kanha dengan tali yang ia bawa sebelumnya. Keduanya tetap tertidur lelap di cabang pohon, aman dari bahaya apa pun.

Lynx kemudian melompat turun dan menyelinap ke dalam hutan, mengikuti jejak Rira dengan mudah.

Tidak jauh dari tempat itu, Lynx menemukan Rira menyerahkan parangnya kepada seorang pria besar yang dikelilingi beberapa orang bersenjata. Ia tidak langsung bertindak, memilih untuk mendengarkan percakapan mereka.

"Aku sudah menyerahkannya," kata Rira dengan suara gemetar. "Tepati janjimu, jangan ganggu lagi keluargaku."

Pria itu menyeringai. "Kau pikir ini cukup? Kami masih butuh lebih banyak. Kau akan terus bekerja untuk kami."

Lynx, yang mendengar itu, melangkah keluar dari bayangan. "Itu milikku," katanya, suaranya tenang tapi tegas.

Semua orang menoleh, termasuk Rira. "Kau!" serunya, kaget.

Pria besar itu menatap Lynx dengan meremehkan. "Jadi kau pemilik senjata ini? Kau datang untuk mati?"

Lynx tersenyum tipis. "Coba saja."

Lynx berdiri di bawah cahaya bulan, tubuhnya santai tetapi matanya tajam memerhatikan pria besar di depannya. Pria itu menggenggam parang milik Lynx, memutar-mutar bilahnya sambil menyeringai.

Rira, yang berdiri di sisi pria besar, terkejut. "Kau seharusnya sudah... pingsan!" serunya, bingung sekaligus panik.

Pria besar itu terkekeh mendengar keterkejutan Rira. "Apa yang kau inginkan, anak kecil? Pergilah atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu." Pria itu meremehkan Lynx karena usianya yang muda serta postur tubuhnya terlihat lemah dan kulitnya terlihat lembut seperti wanita

Lynx menatap pria itu, senyumnya tipis tetapi dingin. "Kembalikan senjata itu sekarang, dan aku akan membiarkan kalian pergi."

Para pria bersenjata di sekitar pria besar itu tertawa mengejek. Salah satu dari mereka, yang membawa kapak besar, maju selangkah. "Kau pikir kami takut pada bocah seperti kau?"

"Tidak," jawab Lynx, bahunya terangkat ringan. "Tapi kalian akan segera menyadarinya."

Kapak besar itu diayunkan ke arah Lynx dengan kecepatan tinggi, tetapi sebelum senjata itu menyentuhnya, Lynx telah menghilang dari tempatnya berdiri. Dalam hitungan detik, ia muncul di belakang pria dengan kapak itu, menepuk bahunya dengan ringan.

"Terima kasih sudah mencoba," katanya.

Pria itu berbalik dengan cepat, tetapi sebelum sempat menyerang lagi, Lynx memukul ringan lututnya dengan ujung sepatunya. Pria itu terjatuh, kehilangan keseimbangan. Lynx melompat ke udara, memutar tubuhnya, dan menendang kapak dari tangan pria itu dengan gerakan yang begitu cepat sehingga senjata itu melayang jauh.

Pria besar yang memegang parang Lynx menyipitkan mata. "Cepat habisi dia!" serunya kepada anak buahnya.

Empat orang maju bersamaan, membawa berbagai senjata—tombak, pedang, dan pisau. Lynx menghela napas pendek. Dengan gerakan cepat, ia melompat ke arah mereka, menangkis serangan tombak dengan tangannya yang bersarung kain, lalu menyapu kaki dua orang sekaligus dengan kakinya.

Rira berdiri membeku, menyaksikan bagaimana Lynx bergerak seperti bayangan, menghindari setiap serangan dengan mudah dan menjatuhkan para penyerangnya tanpa usaha berarti.

Pria besar itu akhirnya maju, mengangkat parang Lynx. "Senjata ini milikku sekarang!" teriaknya, mengayunkan parang itu dengan kekuatan penuh.

Lynx menunggu hingga detik terakhir sebelum memutar tubuhnya ke samping, menghindari serangan itu, lalu mencengkram pergelangan pria itu dengan tangan kirinya. Dengan satu gerakan cepat, ia merebut kembali senjatanya.

"Terima kasih sudah menjaganya," kata

Lynx dingin sebelum menjatuhkan pria besar itu dengan satu tendangan di perutnya.


